Jumat, 28 Desember 2012

PAKAIAN (dalam 3 kata lain menurut Al-Qur'an)


PAKAIAN

Al-Qur’an paling tidak menggunakan tiga istilah untuk pakaian yaitu, libas, tsiyab dan sarabil. Kata libas di temukan sebanyak sepuluh kali, tsiyab ditemukan sebanyak delapan kali, sedangkan sarabil ditemukan sebanyak tiga kali dalam dua ayat.
Libas pada mulanya berarti penutup – apa pun yang ditutup.  Tetapi, perlu di catat bahwa ini tidak harus berarti “menutup aurat”, karena cincin yang menutup sebagian jari juga disebut libas, dan pemakainya di tunjukan dengan menggunakan akar katanya.
Kata libas digunakan oleh Al-Qur’an untuk menunjukan pakaian lahir maupun batin, sedangkan kata tsiyab di gunakan untuk menunjukkan pakaian lahir. Kata ini terambil dari kata tsaub yang  berarti “kembali”, yakni kembalinya sesuatu pada keadaan semula, atau pada keadaan yang seharusnya sesuai dengan ide pertamanya.
Ungkapan yang menyatakan, bahwa “awalnya adalah ide dan akhirnya adalah kenyataan”, mungkin dapat membantu memahami pengertian kebahasaan tersebut. Ungkapan ini berarti kenyataan yang harus dikembalikan kepada ide asal, karena kenyataan adalah cerminan dari ide asal.
Ar – Raghib Al – Isfahani adalah seorang pakar bahasa Al – Qur’an yang menyatakan bahwa pakaian dinamai tsiyab atau tsaub,karena ide dasar adanya bahan – bahan pakaian adalah agar dipakai. Jika bahan – bahan tersebut setelah dipintal kemudian menjadi pakaian, maka pada hakikatnya ia telah kembali pada ide dasar keberadaannya. Ide dasar juga dapat dikembalikan pada apa yang terdapat dalam benak manusia pertama tentang dirinya.
Al –Qur’an surat Al – ‘Araf (7): 20 menjelaskan peristiwa ketika Adam dan hawa berada di surge:
Setan membisikan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan pada keduanya apa yang tertutupdari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, “Tuhan kamu melarang kamu mendekati pohon ini, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang- orang yang kekal (di surge)”.
Selanjutnya dijelaskan dalam ayat 22 bahwa:
….setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu, tampaklah bagi keduanya aurat – auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun – daun surge…
Terlihat jelas bahwa ide dasar yang terdapat dalam diri manusia adalah “tertutupnya aurat”, namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka. Dengan demikian, aurat yang ditutupi dengan pakaian akan dikembalikan pad aide dasarnya. Jika pakaian dinamai tsaub/tsiyab yang berarti “sesuatu yang mengembalikan aurat kepada ide dasarnya” yaitu tertutup.
Dari ayat di atas juga tampak bahwa ide “membuka aurat” adalah ide setan, dan karenanya “tanda – tanda kehadiran setan adalah “keterbukaan aurat”.
Dalam hal ini Al – Quran mengingatkan:
Wahai putra – putrid adam, janganlah sekali – kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia meninggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua (QS Al – A’raf [7]: 27).
kata ketiga yang digunakan Al – Quran untuk menjelaskan perilah pakaian adalah sarabil.  Kamus – kamus bahasa mengartikan kata ini sebagai pakaian, apa pun jenis bahannya. Hanya dua ayat yang menggunkan kata tersebut. Satu di antaranya di artikan sebagai pakaian yang berfungsi sebagai menagkal sengatan panas, dingin, dan bahaya dalam peperangan (QS Al – Nahl [16]: 81). Satu lagi dalam surat Ibrahim (14): 50 tentang siksa yang akan di alami oleh orang – orang berdosa kelak di hari kemudian: pakaian mereka dari pelangkin. Dari sini terpahami bahwa pakaian ada yang menjadi alat penyiksa. Tentu saja siksaan tersebut karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan nilai – nilai yang diamanatkan oleh Allah Swt.

Pakaian dan Fitrah
Dari ayat yang menguraikan peristiwa terbukanya aurat adam. Dan ayat – ayat sesudahnya, para ulama menyimpulkan bahwa pada hakikatnya menutup aurat adalah fitrah manusia yang di aktualkan pada saat ia memiliki kesadaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar